RENCANA untuk membuat terusan yang akan menghubungkan wilayah Pantai Timur Kabupaten Parigi Moutong dan Pantai Barat Kabupaten Donggala terus dimatangkan Pemerintah Provinsi Sulteng. Jika rencana tersebut direalisasikan, maka akan menjadi terusan ketiga di dunia selain Terusan Suez di Mesir dan Terusan Panama di Amerika Tengah. Dengan adanya terusan ini, maka Pulau Sulawesi bakal terbagi dua, karena dipisahkan oleh laut di terusan yang akan diberi nama Terusan Khatulistiwa.
Gubernur Sulteng, HB Paliudju dihubungi usai mengikuti pertemuan dengan Dirjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil DR Ir Ida Kusuma serta seluruh jajaran Muspida, mengakui bahwa ide untuk membuat terusan itu, adalah gagasan setengah gila. Namun gagasan seperti itu dibutuhkan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
Kata Gubernur, gagasan itu telah disampaikan di hadapan Mendagri Mardiyanto pada acara Musyawarah BKPRS, Badan Kerjasama Pembangunan Regional Sulawesi beberapa waktu yang lalu. Terusan Khatulistiwa akan menghubungkan Selat Makassar, Pesisir Tambu dengan Teluk Tomini, Pesisir Kasimbar atau menghubungkan Alur Laut Kepulauan Indonesia, ALKI II dan ALKI III.
Menurut Paliudju, ide untuk membangun terusan yang pertama kali di Indonesia, bahkan di daratan Asia ini, akan menjadi program jangka menengah pembangunan di Sulawesi Tengah. Paliudju, mengatakan bahwa untuk saat ini, belum ada target waktu kapan rencana pembuatan terusan itu direalisasikan. Sebab masih harus menunggu hasil kerja tim penyusun Rencana Strategis (Renstra) yang dalam waktu dekat akan segera diteken surat keputusannya.
“Ini tantangan bagi tim (penyusun Renstra, red). Jangan hanya ngomong doang. Sebab rencana pembuatan terusan ini, tergantung dari hasil kerja tim. Kalau cepat selesai, maka cepat pula realisasinya. Tetapi kita targetkan, bahwa rencana ini akan menjadi program pembangunan jangka menengah Pemprov Sulteng,” kata Paliudju yang saat itu didampingi Kapolda Sulteng Brigjen Pol Suparni Parto dan Komandan TNI-AL, Letkol Laut (Marinir) Hasanuddin.
Sebagai informasi, terusan yang akan diberi nama Terusan Khatulistiwa ini, akan menghubungkan pesisir Pantai Timur yang merupakan wilayah administratif Kabupaten Parimo dan pesisir Pantai Barat, yang masuk dalam wilayah Kabupaten Donggala. Jika terealisasi akan menjadi terusan ketiga, setelah Terusan Suez dan Terusan Panama. Terusan Suez dan Terusan Panama adalah dua terusan terbesar di dunia. Dua terusan ini dibangun untuk kepentingan transportasi yang menguntungkan karena dapat mempercepat perjalanan ke tempat yang dituju.
Terusan Suez menghubungkan laut Mediteranian dengan teluk Suez dan anak sungai Merah. Terusan ini mempunyai panjang 195 km (121 mil) berasal dari sebelah utara ke selatan di seberang tanah genting Suez di sebelah timur laut Mesir. Sebenarnya terusan ini telah digali sejak abad 13 SM namun tidak begitu panjang. Penggalian kembali dilakukan pada Senin, 25 April 1859 dan telah dibuka kembali sebagai jalur navigasi pada Selasa, 17 November 1869 sekaligus menghabiskan sekitar 100 juta US Dolar.
Sedangkan Terusan Panama di Amerika Tengah, dibangun khusus untuk “memangkas” jarak yang seharusnya ditempuh selama beribu-ribu mil dan menempuh beberapa hari perjalanan mengelilingi Amerika Selatan, menjadi hanya beberapa mil saja. Terusan ini mempunyai jalur kapal antara Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik. Terusan ini mempunyai panjang jarak 64 km (40 mil) dan mempunyai tiga kunci saluran yang terpisah menunjukkan terusan ini memang dipersiapkan dengan sangat matang untuk kepentingan transportasi.
Sejak abad ke-16 bangsa Eropa telah mempunyai cita-cita untuk membangun sebuah terusan di daerah Panama untuk membawa harta jajahan dari Amerika kembali ke Spanyol. Kegiatan pembuatan terusan ini baru terealisasi pada abad ke-19 (tahun 1800-an) seiring terjadinya Revolusi Industri sebagai tonggak awal terbentuknya alat-alat modern.
Menurut Paliudju, gagasan mengenai pembuatan terusan dengan melihat kondisi geografis Sulawesi Tengah. Selama ini, hubungan antara kawasan Barat dan Kawasan Timur Indonesia melalui transportasi laut menjadi kurang efisien oleh karena dari kawasan Barat ke kawasan Timur (Maluku, Papua dan Teluk Tomini) atau sebaliknya harus berputar melewati Sulawesi Utara atau Sulawesi Selatan. Ini tentunya melahirkan sejumlah konsekuensi antara lain meningkatnya cost transportasi oleh karena menggunakan BBM dan komponen lainnya menjadi lebih besar.
Selain itu, jika gagasan membangun terusan dapat direalisasikan, maka paling tidak jarak antara kawasan Barat dan Timur atau sebaliknya menjadi lebih pendek dan aman. Akan banyak manfaat ekonomi, sosial dan keamanan yang dapat dirasakan.
”Antara lain, menurunnya harga kebutuhan bahan pokok dan meningkatnya harga komoditi yang diterima masyarakat, meningkatnya efisiensi pengawasan dalam rangka keamanan dan ketertiban di wilayah NKRI termasuk illegal fishing maupun illegal logging, memperkecil gap dalam pengembangan wilayah antara kawasan Barat dan Timur, serta yang utama berkembangnya ekonomi wilayah di Sulawesi Tengah,” tandasnya.
Rencana untuk membuat terusan ini, mendapat dukungan secara politik. Ketua DPRD Sulteng, H Murad U Natsir, menegaskan bahwa legislatif akan terus mendorong eksekutif agar rencana itu direalisasikan. Dukungan tersebut, di antaranya dewan akan segera membahas dan menetapkan, berbagai regulasi yang terkait dengan realisasi dari rencana tersebut.
”Kita mendukung rencana ini, karena ini adalah sebuah gagasan besar dan proyektif dan pasti memiliki dampak positif untuk pembangunan Sulteng yang muaranya, adalah kesejahteraan masyarakat,” kata Murad.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng DR Ir Hasanuddin Atjo MP, mengatakan bahwa dalam susunan tim penyusun Renstra, duduk sebagai ketua tim adalah Bappeda. Sedangkan Dinas Kelautan dan Perikanan, sebagai wakil ketua. Dalam tim akan duduk lintas sektoral, mulai dari akademisi hingga aktivis LSM. Duduk pula perwakilan dari setiap Pemerintah Kabupaten.
”Insya Allah, pekan depan SK gubernur tentang tim ini sudah akan diterbitkan. Setelah itu, tim sudah akan langsung bekerja. Tim ini akan bekerja hingga akhir 2009. Kelak tim ini yang akan melihat titik mana yang akan dijadikan terusan, termasuk yang menjadi tugas tim ini, adalah menyusun Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RT RW) serta rencana Amdalnya,” tandas Hasanuddin.
Rencana pembuatan Terusan Khatulistiwa, mendapat respons yang cukup luar biasa dari pemerintah pusat, khususnya Departemen Perikanan dan Kelautan. Dalam rapat penyusunan Renstra kemarin, hadir langsung memberikan presentasi, Dirjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau kecil Departemen Perikanan dan Kelautan, DR Ir Ida Kusuma. Dalam pembahasan kemarin, juga dihadiri beberapa bupati, di antaranya Bupati Parimo Drs H Longky Djanggola MSi, Bupati Tolitoli Ma’ruf Bantilan dan Bupati Tojo Unauna, Damsik Ladjalani. (Radar Sulteng)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar